Melihat pencapaian anak-anak hingga saat ini, kami sangat bersyukur. Alhamdulillah Allah melimpahkan karunia yang tak terhingga ini kepada kami. Semua keberhasilan ini tak luput dari takdir-Nya. Apa yang terjadi kepada kita sesungguhnya telah Allah takdirkan, tidak ada yang ujug-ujug hadir begitu saja. Semua sudah digariskan. Timbul banyak pertanyaan random saat aku mulai update pencapaian anak-anak. Tirakatnya apa ya Ibu? Ada amalan khusus mungkin, Bu? Anak-anaknya dikasih makan apa ya, Bu? Kok takdirnya cakep ya, rahasianya apa, Bu? Bagaimana bisa mendapat takdir yang sedemikian?
Banyak yang bertanya darimana twin bisa bahasa Jepang, sedangkan di sekolahnya tidak ada pelajaran bahasa Jepang. Jika kubilang mereka belajar otodidak, pasti banyak yang tidak percaya. Tapi memang yang kulihat selama ini, twin tidak pernah belajar dimana pun tentang bahasa Jepang ini. Paling banter belajar bareng dengan sesama teman ekskul Jepangnya di sekolah, tapi ini pun porsinya kecil sekali.
Hellowww, finally hari itu datang juga. Hikss, makin dekat makin deg degan, makin galau emak, deeeek ... Menjelang hari H keberangkatan ke ITB perasaan orang tua makin nano-nano, entah perasaan twin. Seantusias itu mereka ingin segera tiba dan bergabung bersama teman temannya yang lain di kampus tercinta. Sementara kami orang tua terlalu over thinking tentang banyak hal. Kekhawatiran anak yang nanti akan sulit beradaptasi, tidak pernah melakukan segala sesuatu sendiri, selalu dibantu orang tua--minimal meminta bantuan kakaknya. Belum lagi twin yang tidak pernah naik angkot, ke klinik sendiri pun tidak pernah, dan banyak lagi yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar