Melunasi Utang atau Berqurban?
"Ga cuma berqurban, tapi kayaknya emang ga niat mau bayar. Kasian yang berpiutang (memberi utang) sangat butuh bantuan,"
"Padahal orangnya terlihat pandai dalam beragama, tapi soal melunasi utang sepertinya belum sampe bab yang dia pelajari,"
Begitulah. Banyak sekali cerita tentang utang piutang. Beragam narasi, beragam cerita dari beragam pengalaman dan kejadian di sekitar kita.
Disclaimer heula ...
Tulisan ini bukan untuk menjawab pertanyaan yang menjadi tajuk di atas. Yupp, judul di atas memang murni pertanyaan penulis, yang akan dilempar kembali ke pembaca. Bagaimana sebaiknya? Berdasarkan hati nurani. Jika pengetahuan agamanya belum sampe. Bisa lah dipake hati nuraninya.
Utang
Betapa orang yang berutang lebih tidak tahu diri, lupa dengan kewajiban melunasinya. Pura-pura lupa atau mungkin memang sudah mati hati. Naudzubillaah ...
Semua dari kita tahu bahwa melunasi utang adalah wajib, fardhu 'ain tahu dong, ya. Harus dikerjakan oleh yang bersangkutan, dan akan gugur kewajiban tersebut jika ia sudah membayarnya. Kalo belum ya wassalam, akan ditagih di akhirat kelak.
Kalo ga bayar-bayar sampe bertahun-tahun gimana? Gugur ga?
Gugur. Jika si pemberi utang mengikhlaskannya.
Tapi, apa beneran ikhlas?
Atau malah bosan menagih, karena tidak pernah ada itikad baik dari si pengutang. Sementara si pengutang bahagia dengan keadaannya yang sengaja lupa dengan utangnya, senang karena tidak ditagih lagi. Padahal, si pemberi utang hidup dalam serba kekurangan, memohon akan haknya itu bukan kesalahan, tapi mengingatkannya supaya menunaikan kewajiban. Dan tentu berpahala, loh.
Tapi sayangnya, si pengutang malah memilih berbuat zhalim, tidak mau membayar padahal sangat mampu. Berpura-pura lupa, melupakan. Padahal Allah tidak akan pernah lupa akan perbuatannya itu. Menelantarkan orang yang sudah membantunya saat ia membutuhkan. Apa namanya kalo bukan pengkhianat? Tidak punya hati, beku atau mungkin hatinya telah mati?
Mungkin dalam hatinya, "biarin aja ga ada yang tahu ini," "bukan urusan saya kalo dia ga makan," "yang penting uang saya aman."
Hei, Munaroh ... lu lupa ya ada Allah, yang Maha Tahu Segalanya. Mungkin orang lain tidak peduli karena memang sudah hafal dengan sifatmu yang tidak tahu malu itu. Tapi Allah dengan para malaikatnya yang bekerja siang dan malam mencatat apa yang kamu kerjakan, kamu sengaja menahan tidak membayar utangmu. Kejadian itu tentu tercatat rapih, dicetak tebal dan tidak akan terhapus hingga kamu melunasinya.
Dan ingat, utang akan dibawa mati. Ruh akan tertahan tidak bisa ke akhirat jika kamu masih berutang.
"Biarin aja, masih lama kan matinya,"
Bebal sekali Anda! Ya, takdir tidak ada yang tahu, Munaroh. Kalo mati besok gimana? Ga bisa ikut lebaran haji, dah.
Tapi biasanya memang orang seperti ini akan lama di dunia. Akan menjadi tontonan, pelajaran bagi orang lain, agar tidak seperti dia. Merasa Allah masih sayang karena ga pernah diberi teguran oleh Allah. Malah merasa nikmat Allah semakin banyak buat dia. Pede banget ya. Padahal Allah telah melupakannya. Karena kebebalannya. Allah tetap memberikan nikmatnya karena Allah Maha Pengasih, siapapun dikasih tidak terkecuali. Orang kafir pun Allah berikan rezeki, bahkan lebih banyak. Tapi ingat dikasih belum tentu disayang. Allah sayang? Iih pede amaat.
Bagaimana jika masih berutang tapi berqurban?
Qurban
Membayar utang dan berqurban adalah dua ibadah yang sangat berbeda. Keduanya sama sama memiliki keutamaan. Yang jika diamalkan/dikerjakan akan mendapat pahala yang sangat besar dari Allah SWT.
Mari kita bahas.
Qurban apa, sih?
Setiap ibadah yang dilakukan oleh umat Islam pastinya memiliki dasar perintah atau dalil. Begitu juga dengan ibadah qurban yang dijalankan di bulan Dzulhijjah ini.
Dalam surah Al-Kautsar ayat 2: Allah SWT berfirman yang artinya, "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah."
Ayat ini menjadi landasan utama perintah qurban.
Dalam surah Al-Hajj ayat 34: "Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka..."
Ibadah qurban adalah bukti tanda syukur atas nikmat Allah dan tanda ketaatan hamba kepada-Nya.
Keutamaan Berqurban
Qurban memiliki banyak keutamaan di antaranya:
• Mendapatkan Ampunan Dosa
Darah hewan yang disembelih menjadi perantara pengampunan dosa bagi orang yang berkurban sejak tetesan pertama.
• Pahala Setiap Helai Bulu
Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa setiap helai bulu hewan qurban bernilai satu kebaikan di sisi Allah SWT.
• Kendaraan di Hari Akhir
Hewan yang diqurbankan akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, dan bulunya sebagai saksi amal kebaikan.
• Simbol Ketakwaan
Berqurban adalah bukti nyata ketaatan dan kecintaan seorang hamba kepada Allah SWT, meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
• Solidaritas Sosial
Daging qurban menjadi media untuk membahagiakan sesama, terutama fakir miskin, sehingga mempererat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan).
Baca juga : Qurban Tanda Cinta
Melunasi Utang
Keutamaan Melunasi Utang

Komentar
Posting Komentar