Untuk Anakku Yang Kini Jadi Bintang
Nah, benar, kan, ternyata banyak. Pasti salah satunya ada rasa yang ibu alami paling 'dahsyat' dan dampaknya masih ada hingga saat ini. Itu pasti. Apalagi soal bahagia, akan disimpan lama dan tidak dibiarkan hilang begitu saja.
Rasa Luka Akan Kehilangan
Mengingat soal Rasa, ada hari-hari di mana aku menjadi ibu paling pemarah di dunia. Marah pada siapa? Bukan siapa-siapa.
Rasa marah yang tak bisa kubendung. Aku marah pada diriku sendiri.
Marah karena merasa aku tidak cukup menjaganya. Aku kecewa karena baru sadar, setelah semua terlambat. Tangisku tidak akan berhenti jika aku mengingat semua. Saat momen rasa itu hadir dalam hidupku. Sebuah rasa yang paling kuhindari. Karena aku merasa tak akan sanggup jika harus hidup menanggung rasa ini.
Rasa luka. Trauma. Kehilangan.
Aku mengulang-ulang hari itu di kepala. Andai saja aku sadar lebih cepat. Andai saja aku lebih peka. Andai saja. Aku tahu itu bukan momen 'biasa'nya. Andai saja ...
Dan banyak lagi andai saja-andai saja yang lainnya sebagai bentuk penyesalanku yang tak pernah ada habisnya. Betapa aku berkutat di itu-itu saja.
Tanpa kusadari,"Andai saja" itu menjadi rumah yang paling sempit buatku. Dan aku tinggal di sana lama sekali.
Kehilangan anak di usianya yang masih balita itu bukan sekadar kehilangan. Tapi ke-terkaget-an yang sangat buatku. Tidak pernah kami sangka bahwa Allah mengambilnya dari kami begitu cepat. Rasanya seperti ada bagian dari tubuhku yang tercerabut, tapi lukanya tidak terlihat.
Si kecil baby Shaki yang begitu lincah, gemoy dan sungguh menggemaskan. Bayi mungil yang mampu mengalihkan semua mata hanya tertuju padanya. Tidak hanya kami yang sangat menyukainya, tapi juga para tetangga dan bahkan anak-anak murid lesku sangat mengaguminya.
Tidak ada yang percaya jika hari itu baby Shaki akan pergi meninggalkan kami semua. Karena ia tidak sedang dalam keadaan sakit, juga tidak mengalami masalah apa pun.
![]() |
| Baby Shaki saat berusia 9 bulan |
Aku syok. Langsung mengurung diri di dalam kamar seharian. Tidak melayani, dan tidak mau bertemu siapapun, meski katanya banyak yang datang melayat.
Begitu terus berhari-hari, berminggu-minggu, dan sekian bulan berlalu.
Orang-orang bilang "yang sabar ya", tapi mereka tidak tahu, sabar itu bagiku rasanya seperti menelan serpihan kaca yang tajam setiap pagi. Yang aktif membuat luka dimana-mana.
Aku sampai di titik sangat putus asa. Aku mengira pasti aku tidak akan pernah sembuh. Dan mungkin memang benar — aku tidak akan pernah menjadi aku yang dulu lagi. Karena ibu yang kehilangan anaknya, selamanya jadi ibu yang tahu rasanya kosong. Bahkan rasa bersalah itu sering kali datang tanpa diundang, hingga saat ini.
Baca juga : 40 Hari Setelah Kepergianmu
Seni Mengolah Rasa
Berita baiknya, aku mempunyai banyak teman yang setia men-support, bertanya kabarku, dan selalu mengingatkan aku bahwa dunia tidak berhenti berputar. Masih ada dunia lain di luar sana.
Aku bersyukur, tidak ada dari mereka yang menyalahkan aku akan peristiwa kehilangan ini. Meski para tetangga awalnya menyalahkan aku juga tapi mereka pun akhirnya membantuku untuk bangkit lagi. Karena mereka tahu pasti, aku yang paling sedih dan menderita atas musibah ini.
Aku terus berjuang mengolah rasaku yang semakin menggerogotiku dari dalam. Aku tahu, aku tidak boleh selamanya seperti ini. Anakku tidak hanya satu. Anakku bukan hanya baby Shaki yang telah pergi itu.
Hingga akhirnya guru mengajiku menyampaikan berita baik itu. Bahwa anak yang meninggal itu adalah tabungan akhirat untuk orang tuanya. MasyaAllah. Aku sedikit bersemangat, meski tentu perasaan sedih akan tetap ada.
Hingga aku tersadar.
Hei, masih ada anak-anakmu yang lain. Mereka juga butuh hadirmu di sisi mereka. Meski sudah besar tapi mereka tetap butuh perhatian dan apresiasi darimu saat mereka membuat 'keajaiban' yang pernah menjadi impianmu.
Aku berusaha menemukan kembali aku yang dulu. Meski berat, tapi kutahu, aku akan bertahan. Semua demi anak-anakku yang juga berusaha--kembali normal dengan versinya masing-masing--Mengolah Rasa kehilangan mereka. Aku ingin menyampaikan hal baik kepada mereka, bahwa aku akan selalu ada untuk kalian anak-anakku.
![]() |
| Kakak twin & lilbaby Shaki |
![]() |
| Kakak twin & lilbaby Shaki |
Dan selanjutnya ...
Hari demi hari ada yang pelan-pelan berubah.
Kami (baca: aku) mulai belajar memeluk kehilangan itu. Bukan karena aku sudah ikhlas sepenuhnya. Tapi karena aku capek berkelahi terus dengan sesuatu yang tidak bisa aku ubah.
Sekuat apapun penyesalanku, tah itu tidak akan bisa mengembalikan baby Shaki ke pangkuanku. Tidak akan bisa menghadirkan semua target impianku akan bayi kecilku itu 0lagi.
Setiap hari aku memeluk rasa kehilangan itu. Kami berteman, tak lagi saling menjauh. Aku memeluknya erat seperti memeluk baju kecil hangatmu yang masih kusimpan di lemari. Wanginya sudah hilang, tapi hangatnya masih ada. Dan itu cukup memberiku semangat menjalani hidup di hari itu.
Bagaimana dengan rasa rindu, masihkah ada?
Tentu saja aku masih dan akan tetap rindu. Tidak ada seorang ibu di manapun yang tidak akan rindu pada anaknya yang sudah berpulang. Meski sakit, tetap rasa rindu itu selalu terpelihara baik. Karena aku memperlakukannya sama dengan rasa kehilangan.
Aku memeluk rindu itu dengan kehangatan bersamanya. Dengan ribuan bahkan jutaan kenangan indah bersamanya. Tapi kini aku tidak menangis. Aku berusaha menghadirkan senyuman yang manis. Dan hangat.
Setiap melihat anak kecil berlari-lari di taman. Setiap mendengar lagu nina bobo. Setiap ulang tahunmu. Rasa rindu itu kembali menyeruak.
Rindu itu tidak akan pergi. Dan aku sudah berhenti menyuruh dia pergi. Tetap di sini, rindu. Jangan pergi! Karena kubutuh rasa itu tetap ada. Aku menyemangati diriku sendiri menikmati kerinduan itu dengan bahagia.
Kami semua merindukannya, tentu saja. Tapi kami tidak boleh berdiam diri. Keluargaku terus berproses mewujudkan mimpi masing-masing. Tanpa melupakanmu, Nak.
Baca juga : Refleksi 24 Tahun Pernikahan
Rindu itu Terus Bertumbuh
Yupp, kubiarkan rasa rindu itu tetap ada. Aku memupuknya agar ia terus bertumbuh. Karena rindu itu bukti.
Bukti bahwa kamu baby Shaki, pernah ada.
Bukti bahwa kamu baby Shaki adalah anakku.
Dan selamanya akan jadi anakku. Dan teruslah bersinar seperti kakak-kakakmu.
Kalau kamu bisa mendengar dari sana, Nak...
Maafkan ummi ya, yang masih terus belajar.
Maafkan ummi yang kadang masih marah pada diri sendiri.
Tapi ummi juga sedang belajar memaafkan diri sendiri. Pelan-pelan. Entah sampai kapan.
Baby Shaki, segala harapan pernah ummi sematkan padamu, Nak. Ummi ingin kamu lebih 'menyala' dari saudara-saudaramu yang lain. Mungkin ini juga satu kesalahan. Bebanmu sangat berat. Sekali lagi, maafkan ummi, Nak.
Terima kasih ya, sudah pernah memilihku menjadi ibu paling beruntung karena memilikimu, walau sebentar.
Sebentarnya kamu, jadi selamanya ummi. Dan kenangan itu akan selalu hidup di sini. Di rumah kita. Bersama Abi, MasOz, Kak Ima dan kak Nia.
Kami semua sayang baby Shaki.
Di setiap napas, di setiap rindu, di setiap doa. Selalu ada namamu, Nak. Tunggu kami di sana ya, Sayang.
Selamat Berproses
Izinkan aku terus berproses, dan aku tulus meminta dukunganmu untuk menemani setiap prosesnya. Mungkin tidak terlihat. Karena bagiku itu bukan hal kecil. Marah, kecewa, lega, rindu — semuanya valid. Tidak ada timeline buat sembuh dari kehilangan sebesar ini, kan?
Aku tahu proses itu tentu menjadi masa yang amat panjang dan tak tahu kapan tiba di titik finish. Karenanya aku menyibukkan diri dengan banyak melakukan hal baik agar yang tersiar tentangku tak lagi ibu dengan kesedihan berkepanjangan tapi Ibu dengan sejuta Berita Baik dari dirinya.
Jika suatu hari rasanya berat sekali, tidak apa-apa kan, aku ingin kamu jadi temanku untuk bercerita?
Aku cuma ingin tahu bahwa aku tidak harus jalan sendirian. Terima kasih sudah menjadi temanku, kawan.
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog "Perempuan Bicara Rasa" sebagai bagian dari rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026.
Info lengkapnya bisa dilihat di sini ya.




Shaki menjadi bidadari di surga, dia menunggu dan akan menyambut dengan senyuman yang manis jiaj bertemu dengan umi, Abi dan juga kaka2 nya.semangat sahabatku 🤗😍
BalasHapus