Refleksi 24 Tahun Pernikahan


Alhamdulillaah 'ala kulli hal. Pernikahan kami menginjak usia 24 tahun di 4 Mei 2026 ini. Waktu yang tidak bisa lagi disebut sebentar untuk hidup bersama dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal sebelumnya. 

Dan, bertahan hingga tahunan bahkan puluhan tahun itu adalah sebuah prestasi yang patut dibanggakan, bukan? 

Bukan, bukan ... bukan soal kemampuan kita untuk bertahan, bukan juga untuk menunjukkan siapa yang paling lama usia pernikahannya. Tapi kemampuan kita bersama pasangan untuk saling menerima dan melengkapi segala kekurangan. 

Ya, mungkin untuk orang-orang yang dengan usia pernikahan yang sama sudah 'kenyang' dengan hal tersebut. Bahkan tak lagi seperti kewajiban yang harus kita lakukan. Karena, ya memang itu sudah menjadi kebiasaan, bahkan menjadi kebutuhan dalam kehidupan rumah tangga kami. Kebutuhan untuk menerima dan kewajiban melengkapi kekurangan itu akan menjadi terbiasa di rumah tangga kami. Menerima bukan berarti legawa begitu saja. Menerima dengan hati, menerima dengan ikhlas dan berusaha melengkapinya. Bukan hanya pada pasangan tapi juga anak-anak, kita terbiasa melakukannya. Dan, tahukah? Ternyata kebiasaan menerima dan melengkapj itu menjadikan segalanya menjadi sempurna. Hasil yang didapat melebihi apa yang ingin kita capai. MasyaAllah. 

Merinding kan bacanya. Apalagi kami yang berkaliulang mengalaminya. Bismillah. Tidak ada yang sia-sia jika kita ikhlas. Dalam hal apapun. Yupp. Dalam hal apapun itu. 


Ah, klise itu mah, ada juga yang begitu. Ya, emang.

Lantas apa yang diharapkan dari kami, pasangan dengan usia pernikahan hampir seperempat abad ini? 

Tips untuk selalu bahagia? Klise juga.

Trik mensiasati pasangan agar tidak bosan dengan kita? Iih, apalagi itu. Udah banyak teorinya. 

Langkah-langkah penghematan untuk menekan pengeluaran? Boleh juga, sih. Tapi lagi-lagi itu cuma teori. Yakiiin, bakalan dipraktikkan? Ga juga, kaaan. 

Baca juga : 46 Tahun dan Sejuta Makna Cintanya


H-1 Tahun Pernikahan Perak  

 24 tahun. Akhirnya sampai juga di termin ini. Tahun depan sampai di pernikahan perak, yang kata orang akan berbeda. Akan terlihat sesuatu yang tidak pernah kita lihat dari pasangan kita. 

Enjoy aja enjoy ...

Nah. Kuncinya ini aja. Kami menikmati semuanya. Bukan cuma bahagia dan serunya, tapi juga jumpalitannya, kalang kabutnya bahkan sedihnya pernikahan kami, semua yang terjadi dalam rumah tangga, kami nikmati. 

Jumpalitan dan kalang kabut dimananya, Mak? Kite liat lu baek-baek aja. Kayak ga ada ombaknya. 

Yeee, bapak lu ga ada ombak!! 

Yang namanya pernikahan pasti akan ada ombaknya. Naik turunnya. Bahkan anjloknya. 

Kenapa ga kelihatan? karena kami pandai menyembunyikannya agar tidak terlihat.

 Sembunyikan kesedihan dan masalah rumah tanggamu dari orang lain. Bahkan orang tuamu sendiri. 

Kenapa? 

Karena yang ngincer laki gw bukan gw doang, ada juga perempuan laen yang mungkin lagi nungguin dia jadi dude. 

Ampoooon maaaak. 

Kasarnya begitu ges. Segala permasalahan di rumah jangan sampai keluar. Jangan sampai lewat pintu rumah. Cukup di dalam saja. Se-jumpalitan-nya kita. Orang lain jangan tahu. Sedih di dalam rumah, jangan sampai terbawa keluar. Karena lebih banyak yang senang kalian jatuh dari pada mendengar kalian bahagia. Percaya deh sama akyuuu. 

Nikmati. Keep secret. All. 

Terus apalagi? 

Senantiasa memurnikan cinta. 

Mengisi tangki-tangki cinta dengan cinta yang murni. 

Cieee ... bahasa lu, Maaak. 

Lah iya. Bertahun-tahun, belasan tahun. Bahkan hingga puluhan tahun bersama. Cinta kami diuji selama itu. Apakah kuat dengan cinta yang begitu gitu aja? Apa iya ga karatan tuh cinta. #ehgimanah.

Cintanya memang begitu. Tapi bukan begitu begitu aja. Cinta yang khas. Murninya hanya kita yang tahu. Jika ada yang aneh akan langsung terdeteksi. Ada sesuatu, nih. Radar Kugi langsung bekerja. Radar Kugi ga tuuh, wkwkwkkk, ytta. 

Kami tidak pernah membiarkan tangki cinta kosong, hampir kosong pun akan terisi lagi. Dengan apa? Instrospeksi. Deep talk. Meski terkadang emang kebanyakan dan dipastikan aku yang paling cerewet. Tapi di situlah seninya. 

Paksu bukan termasuk orang yang senang jalan. Bahkan teramat susah diajak jalan. Tapi kami usahakan untuk bisa jalan berdua saja. Menikmati keberduaan kita yang kemarin-kemarin sangat jarang. Nah, kalo sekarang malah kebanyakan waktu berdua. Haha. 

Bukan kuantitasnya tp kualitasnya. Quality time pasangan itu sangat perlu. Ga usah jauh sampe jalan ke luar negeri--ongkosnya juga ga ada-- motoran keliling kampung doang aja udah hepi kan, mak. Ngobrol dengan suara keras melawan angin itu seru, loh. Cobain. 

Ga usah jauh ke Bandung buat makan Cimol bojot, di Perum 3 juga ada sekarang. Minta ongkos bill sama anak bujang, ortu tinggal ngacir motoran. Haha. Iya, sesimpel itu. 

Itinerary kami sangat panjang. Daftar tempat yang akan dikunjungi juga berderet. Kajian dari masjid ke masjid, sekadar melihat keindahan alam atau mencicip kuliner di pinggir jalan. Kebersamaannya yang terpenting. 

Bukan, mengisi tangki cinta lah yang paling penting. Sepulangnya dari aktivitas tersebut, kami merasakan tangki-tangki kami terisi penuh. Perhatian. Kelegaan. Didengarkan. Tangki itu bahkan luber-luber. 

Tapi, bagaimana kalo merasa bosan? 

Itu tanda tangki cintamu kosong. Ya, isi lagi. 

Hei ... kita sudah bersama puluhan tahun. Pasti merasa bosan. Tentu saja. Jangan bohong. Dosa. Wkwkkk. 

Gapapa. Asal jangan lama-lama. Kembalikan lagi ke semula. 

Caranya? 

Ingat kembali apa yang sudah dilalui bersama. Suka dukanya, susah senangnya, hepi, bahagia sedihnya, merindingnya, kesalnya ... semuanya.

Apa yang sudah didapat? 

Sebandingkah dengan kesedihan yang diberi? 

Sedih dan kesal sebentar itu biasa. Bumbu rumah tangga. 

Tapi jika kesal berkepanjangan bagaimana? 

Ambil jeda. 

Introspeksi masing-masing. Kita bukan lagi anak kecil. Sudah tua bahkan. Menyendiri boleh banget asal kembali dengan wajah cerah dan pengakuan kesalahan. Apalagi ditambahkan dengan ajakan untuk nonton bioskop berdua. 

Ingat. Keluarga kita mungkin menjadi dambaan dari keluarga orang lain. Mereka menjadikan kita contoh. Padahal, yang sebenarnya mereka tidak tahu dalamnya keluarga kita kayak mana,  wkwkkk. 

Baca juga : Sebuah Refleksi Diri


Yang paling patut kusyukuri hingga saat ini. Mempunyai Paksu sebagai pasangan hidup adalah anugerah. Yapp. Jika bukan dengannya kuarungi hidup, belum tentu hidupku semeriah ini. Belum tentu kudapatkan anak-anak se-amazing mereka bertiga ini. 

Allah yang Maha Kaya. Jangan ambil mereka dariku sebelum aku sendiri yang pergi meninggalkan mereka dari dunia ini.

 Alhamdulillah untuk 24 tahun kebersamaan ini dan semoga akan terus bersama hingga maut memisahkan. Aamiin. 

Baca juga : Memaknai Hidup Dan Ujiannya


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awali Hari dengan Sarapan Bergizi

Twin & Bahasa Jepang

Silaturahim Mendulang Doa dan Harapan