Ramadan dan Perjalanan Memperbaiki Diri



Separuh Ramadan sudah kita lewati. Bagaimana perasaan kita? Semakin semangat beribadah atau malah sudah jemu ingin Ramadan segera berakhir? Astaghfirullah

Dua pekan menjalani Ramadan sepatutnya membuat diri kita semakin baik dalam beribadah, karena Allah melipatgandakan pahala ibadah/amalan di bulan Ramadan. Tak hanya ibadah langsung kepada Allah, seperti salat, membaca Alquran, dan berpuasa yang balasannya Allah sendiri nanti yang akan memberi. 

Selain itu juga kita bersemangat untuk beramal, bersedekah, berbuat baik kepada orang lain, memberi makan untuk yang berbuka puasa dan lain sebagainya. 

Semua amalan, apapun itu akan dibalas berkalilipat oleh Allah swt. Allah sedang mengadakan obral pahala besar-besaran selama satu bulan penuh. Dan itu diberikanNya sekali dalam setahun. MasyaAllah, betapa sayangnya Allah kepada kita hambanya, bukan? Di bulan Ramadan juga mewajibkan kita berpuasa. Dan saat itu pintu-pintu surga dibuka, sementara pintu-pintu neraka ditutup, para setan dibelenggu. Dan di bulan Ramadan ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. 

 قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ
 تُفْتَحُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلًّ فَيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فَيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ شَهْرٍ 

Artinya: "Telah datang bulan Ramadan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan." (HR Ahmad). 


Ramadan adalah perjalanan

Yupp, sejatinya Ramadan adalah sebuah perjalanan spiritual, dan bukanlah sebuah ajang perlombaan yang harus segera dituntaskan. Berapa banyak yang ingin Ramadan segera berakhir. Apalagi setelah melewati dua pekan yang cukup menyiksa bagi mereka yang tidak terbiasa dengan aktivitas aneka amalan ibadah, mereka sangat menghindari Ramadan. 

Ramadan mengajarkan kita, bahwa setiap proses memiliki nilai, setiap ibadah yang kita lakukan memiliki balasannya masing-masing. Bahwa setiap hari yang kita jalani menyimpan banyak pelajaran berharga untuk kita merenung dan memperbaiki diri.

Dalam perjalanannya, Ramadan menjadi ruang kita untuk selalu belajar menahan diri, baik dari lapar dan dahaga maupun dari amarah, prasangka, serta sikap yang merugikan orang lain. Kita dituntut untuk menahan emosi dalam menghadapi situasi yang kadang amat crowded, ya kaan. 

Bagaimana kesabaranmu beneran diuji saat war takjil. Kamu yang memiliki kesabaran setipis tisu tidak akan sanggup mengantre panjang hanya untuk satu porsi es pisang ijo misalnya. Udah lama berdiri untuk antre, ga tahunya pas tiba giliranmu. Eh, si pisang ijo abis. 

Setiap detik yang dilalui adalah kesempatan untuk membersihkan hati dan memperbaiki niat. Bagaimana kamu bersabar saat mengantre, perjuanganmu yang ikhlas ini lah yang mendapat nilai tak berbading apapun dari Allah. Meski akhirnya kamu ga kebagian es pisang ijo, tapi pahala sabarmu telah mengalir. 

Kesadaran untuk ikhlas inilah yang menjadikan ibadah tidak hanya sebatas kewajiban, tetapi juga kebutuhan batin yang menghadirkan ketenangan.

Bulan Ramadan juga menjadikan kita pribadi yang murah hati. Rajin bersedekah hanya karena mengharapkan ridha Allah saja. Karena sedekah yang paling mulia adalah sedekah di bulan Ramadan. 

أيُّ الصَّدَقَةِ أفْضَلُ؟ قَالَ صَدَقَةٌ فَيْ رَمَضَانَ

Artinya: Rasulullah saw pernah ditanya, “Sedekah apakah yang paling mulia?” Beliau menjawab: “Yaitu sedekah di bulan Ramadan.” (HR Tirmidzi).


Refleksi Ramadan 


Ramadan adalah sebuah perjalanan spiritual, bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga perjalanan memperbaiki hati. 

Memperbarui niat amalan, senantiasa merevisi, merenovasi bentuknya, dan memperbagus akhirnya. Namanya sebuah perjalanan, ia tidak selalu mulus, pun tak harus memberi hasil yang sempurna. Tidak mengapa, karena yang dilihat oleh Allah adalah prosesnya. 
Bagaimana hasil akhirnya, tidak menjadi soal. Cukuplah lebih baik dari kemarin, akan menjadikan Allah semakin cinta kepadamu. 

Jika sebelum Ramadan emosi kita sering meledak-ledak dan tidak terkontrol hingga membuat gaduh orang sekampung. Cukuplah di Ramadan ini kita bisa menahan emosi itu untuk tidak keluar selama siang hari Ramadan. Dan saat Maghrib tiba, jika mungkin tak bisa menahannya, cukuplah menata emosinya agar lebih rapi, tidak serta merta bergejolak. 

Bukankah itu sebuah kemajuan? 
Meski masih emosi dengan melotot tajam tapi sudah tidak meledak serampangan. Artinya di Ramadan ini kita mampu memanej sedikit emosi kita.

Itu baru emosi. Bagaimana dengan yang lain? 
Tentu saja kita berharap semuanya lebih baik dari kemarin. 
Salatnya, puasanya, interaksi dengan tetangganya, hubungan dengan keluarga lain, dan amalan-amalan lain. 

Orang-orang yang banyak beribadah (menghidupkan) bulan Ramadan, maka dosa-dosanya diampuni oleh Allah swt.

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

Artinya: "Barangsiapa beribadah (menghidupkan) bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari dan Muslim).

Cukuplah kita lebih baik dari sebelum Ramadan. Karena yang Allah lihat bukan seberapa cepat kita berubah, tapi seberapa tulus kita ingin berubah. 

Dari mana Allah melihat ketulusan kita?
Tentu saja dari usaha yang kita lakukan. 
Sahur tidak kesiangan. Puasa dilalui tanpa cela, tanpa emosi, tanpa bergunjing, dan tanpa hal buruk lainnya. Berbuka sekadarnya dan tidak berlebihan. Salat tarawih yang rajin tanpa bolong, berzakat dengan nisab sempurna, melaksanakan salat Idulfitri berserta dengan sunnahnya. MasyaAllah. 

Baca juga : Ubah Mindset Berdoa

Komitmen Ramadan 


Oiya, apakah semua amalan yang dilakukan selama Ramadan ini dilakukan atas dasar keikhlasan? Hanya mengharapkan pahala dari Allah saja, tanpa berharap mendapat pujian dari orang sekitar? 

Sejatinya tiap amalan yang dilakukan kapan saja di mana saja, tak hanya di bulan Ramadan saja haruslah dengan ikhlas. Dan puasa yang dilakukan di bulan Ramadan bisa menebus dosa-dosa yang telah lewat, dengan syarat puasanya ikhlas. 

Rasulullah saw bersabda: 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

Artinya: "Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari dan Muslim).

Jika Ramadan usai dan bersiap pergi meninggalkan kita, bagaimana perasaan kita?

Jika yang dirasakan hati kita senang karena Ramadan akan segera berakhir, berarti Ramadan kali ini belum sepenuhnya memberi arti lebih untuk kita. Karena mungkin masih ada niat lain di hati selain ikhlas.

Sebaliknya, jika kita amat sedih ditinggalkan Ramadan, takut tidak dapat bertemu Ramadan lagi di tahun mendatang. Artinya Ramadan kali ini telah memberikan bekas yang berarti dalam hidup kita. Ramadan berhasil menjadikan kita pribadi baru yang lebih baik. Ramadan kali ini adalah perjalanan hijrahmu yang berhasil. Dan kamu akan merindukan Ramadan dan ingin jika semua bulan adalah Ramadan. 

Dan tugas kita tidak berakhir saat Ramadan usai. Namun akan terus berlanjut, menjaga ritme ibadah dan senang beramal di bulan-bulan selanjutnya sebagaimana layaknya beribadah dan beramal di bulan Ramadan. Tak lagi memikirkan balasan berlipat ganda tapi menjadikan beribadah dan beramal adalah kebutuhan yang harus dilakukan setiap waktu. 

Karena sejatinya bukan Allah yang membutuhkan ibadah kita, tapi kita yang membutuhkan Allah. 

Semoga kita tetap istiqomah meski Ramadan telah berlalu. MasyaAllah. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awali Hari dengan Sarapan Bergizi

Twin & Bahasa Jepang