46 Tahun dan Sejuta Makna CintaNya
78, beneran lu 78?
Gemukan ya, gede banget, lu sekarang.
Ya ampuuun suburnyaa ...
Hepi banget pasti. #dengan nada yang sukar dilukiskan
Kata beberapa orang teman lama dengan ekspresi yang 'mbuh' saat kali pertama melihatku. Iyess, aku 78 kg sekarang.
Dan aku ... sudah mulai terbiasa. Sudah mulai bisa menerima apa kata orang tentang perubahan ini--ngaca sambil senyum--ambil positifnya aja. Jadi punya banyak baju baru karena baju lama udah banyak yang ga muat, harus di-upgrade ukurannya.
Sudah mulai ga insecure dengan tampilan yang sekarang. Selalu berpikiran positif karena masih diberi kesehatan, masih bisa makan enak, masih bisa wara wiri, masih bisa ketawa ketiwi. Pun dengan bodi yang semok kayak gini. Haha.
Mungkin teman-teman yang malah tertekan kalo jalan bareng aku, iya kah? Jawab jujur besties? Buhaji Emi, Rince, Wiwit, Mimi, mamih, jeng Amber, Mince? Siapa lagi dah yang sering dijawil jalan bareng, wkwkwkkk.
Btw, pagi ini sebenarnya aku meriang--udah beberapa hari sih--badan rasa ga enak, pegal-pegal, kepala pusing, tenggorokan gatal, ditambah sekarang mulai batuk keras dan berdahak. Subhanallah, diborong semuanya ya. Alhamdulillah hadiah bertambahnya usia kita tidak bisa prediksi. Ternyata Allah memberi semua rasa sakit di awal hari menapaki tahun ke 47 ini. Siapa tahu di hari-hari selanjutnya segar bugar tanpa kurang satu apapun. Aamiin.
Bisa-bisanya die mikir begitu.
Iya, dong. Kita harus senantiasa berpikir positif. Hindari jauh-jauh pikiran negatif yang akan men-distrak hari-hari hebat kita. Bismillaah, semoga segalanya jadi jauh lebih baik.
Ada satu video di thread yang menggelitik yang menjadi trigger postingan ini. Yakni tentang keberuntungan. Juga postingan tentang bahagia yang kutulis beberapa tahun silam, secara ga sengaja ada yang baca, dan kulihat laporannya di dashboard, lumayan banyak yang nge-klik.
Bahwa setiap orang punya keberuntungannya masing-masing. Ini dulu yang harus digarisbawahi. Beruntung belum tentu bahagia, tapi bahagia sudah pasti beruntung. Ya ga, sih?
Disclaimer aja ya ini, karena definisi keberuntungan dan kebahagiaan tiap kita berbeda-beda. Ya, kan?
Contoh kasus. Ada orang yang beruntung selamat dari kecelakaan maut yang merenggut seluruh keluarganya. Apakah dia beruntung? Tentu saja. Tapi apakah dia bahagia kehilangan semua keluarganya?
Bandingkan dengan yang ini.
Orang itu bahagia mendapati seluruh keluarganya datang menjenguk ke rumah sakit usai ia mengalami kecelakaan hebat. Ia beruntung hanya patah kaki sebelah kiri saja.
Dan untuk sakitku saat ini, aku beruntung hanya diberi sakit meriang dkk-nya. Ada teman yang sampe ga bisa berjalan karena sakitnya, hingga dicek asam urat.
Kan ... dengan sakit saja kita masih bisa bahagia, karena merasa beruntung tidak diberikan sakit yang lain.
Duhh, rakyat sepolos ini masih aja dibohongi sama pemerintahnya. #eh
Baca juga : Seperti Apa Peranmu Sebagai Ibu
Beruntung dan bahagia
Kita semua beruntung dengan cara masing-masing. Ada yang diberi rezeki yang melimpah, ada yang diberi kesehatan paripurna. Ada juga yang diberi kedua duanya. Ada yang jalannya dimudahkan, tapi ada juga yang hatinya dikuatkan karena harus menempuh jalan berliku. Beruntung masih bertemu kebahagiaan di akhirnya.
Bentuk anugerah Allah mungkin berbeda-bada tapi itu semua adalah hadiah dari Allah atas usaha kita. Dan semuanya harus disyukuri setiap waktu, setiap hari, setiap saat, selama kita masih menghirup udaraNya.
Karena kebahagiaan itu bukan hanya soal apa yang kita genggam dan apa yang kita raih, tapi soal hati yang merasa cukup dengan apa yang Allah titipkan pada kita.
Tenang bukan senang
Jangan meminta senang tapi mintalah tenang. Terkadang kita berdoa meminta kesenangan yang banyak. Karena teori dasar yang kita anut semata adalah ... jika senang pasti bahagia.
Dulu sih iya, berdoa minta diberi kesenangan dunia akhirat. Melimpah ruah, biar hepi hidup. Tipe doa pengin enak doang, nih, wkwkwkkk. Hampura Gustiiii.
Belakangan semakin sering menerima ujian hidup membuat kami sadar bahwa senang itu belum tentu tenang. Karena banyak yang terlihat senang tapi tidak merasakan ketenangan.
Apalah guna harta melimpah tapi hidup selalu uring-uringan tidak tenang. Hati selalu was was, resah dan gelisah.
Saat berdoa hindari meminta harta tapi mintalah rasa cukup. Karena ternyata banyak yang kaya tapi tetap merasa kurang. Astaghfirullaah.
Hidup tenang penuh keberuntungan dan selalu bahagia. Standar hidup yang high level banget ya. Tapi memang begitulah sejatinya cara kita berdoa. Minta yang sedetail mungkin dan 'enak' meski sebenarnya Allah mengetahui setiap keinginan hambaNya tanpa hamba tersebut menyebutkannya. Allah mengetahui semua isi hati kita.
Baca juga : Desember Dan Semua Bahagianya
Refleksi
29 Februari beberapa puluh tahun silam aku dilahirkan, yupp, tahun kabisat yang tidak setiap tahun ada tanggalnya. Bersyukur karena dengannya aku jadi tidak pernah dikerjain teman waktu sekolah. Ga pernah dimintai traktiran dan ga pernah juga di traktir. Haha. Keun we lah ... ga usah pusingin soal tanggalan. Mau ada ga ada tanggal, yang pasti umur kita bertambah dan semakin menua. Ye kaan.
Usia hanyalah angka, kata orang-orang. Benar juga, sih. Untukku, ulang tahun adalah momen pengingat untuk me-refleksi diri tentang perjalanan hidup, apa saja yang telah dilakukan, apa saja yang sudah diraih dan apa yang belum. Apakah lebih banyak sukanya atau dukanya selama mengarungi 46 tahun hidup ini.
Di momen ini kusadar usia hidup bertambah, tetapi pada saat yang sama kesempatan hidup berkurang. Bertambahnya usia juga berarti tanggung jawab terhadap hidup semakin besar. Artinya kesempatan ini--setelah melakukan refleksi, evaluasi dan instrospeksi--kugunakan untuk menata ulang elemen hidup mana yang sebenarnya lebih dibutuhkan. Yang salah direvisi dan yang sudah lurus dilanjutkan.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan begitu banyak nikmat hingga akhirnya sampai juga di level 46. Yeaah. Warna warninya, aneka rasanya, hepi dan sakitnya, semuanya, terima kasih Allah. Syukur tak tethingga pokoknya.
Selanjutnya akan timbul pertanyaan. "Apa sebenarnya yang ingin kita capai di akhir hidup kita?”
Baca juga : Sebuah Refleksi Diri
Apa ya? Malah udah tua, 46 ... heiii bentar lagi 50, apakah sebentar lagi akan tiba waktunya, usai menikmati hidup di dunia? Trus udah ngapain aja, udah dapat apa aja?
Memutar ulang episode perjalanan hidup, merasakan dan memaknai sepenuh jiwa agar hidup kita mempunyai arti lebih. Sudahkah menjadi manusia baru di setiap momen kelahiran ini?
Manusia baru yang dimaksud tentu adalah manusia yang semakin baik, baik dalam hubungan dengan sesama manusia maupun dengan Sang Pencipta, Allah ajja wa jalla. Sebab, kepadaNya nanti kita akan kembali.
Setiap kita tentu ingin hidup beruntung, tenang dan bahagia, walaupun mungkin belum tercapai semua yang diimpikan. Karenanya perlu untuk setiap saat memperbaiki diri ke arah yang lebih baik, tidak harus menunggu tiba hari lahir.
Aneka rasa dan aroma hidup terlewati di 46 tahun ini. Meski yakin masih banyak lagi kejutan yang Allah siapkan untukku. Terima kasih telah sampai di titik ini. Terima kasih menjadikanku hingga seperti sekarang ini. Terima kasih semua anugerah yang telah Allah beri. Terima kasih atas penerimaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata. Engkau yang Maha Tahu segalanya, meski adakalanya hati tidak selalu tertaut padaMu, keluar jalur, tapi Engkau selalu menerimaku kembali. Dengan bahagia yang tak pernah berkurang bahkan lebih. Lebih dari yang kukira.
Baca juga : Memaknai Hidup Dan Ujiannya
MasyaAllah tabarakallah. Tetaplah bahagia wahai diri.
Bismillah, semoga menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

Komentar
Posting Komentar