5 Perspektif Merdeka Bagi Ibu
Yeahhh, horeee Agustus. Agustus itu selalu bikin semangat. Ya, kan, Bun? Akan banyak acara seru dan meriah yang akan diadakan untuk merayakan kemerdekaan negara kita nanti. Dan tentu saja semua orang boleh berpartisipasi memeriahkannya. Dari anak-anak hingga lansia.
Di lingkunganku saja, sudah mulai ada yang mengadakan pesta aneka lomba. Ada lomba balap karung, makan kerupuk, gigit sendok dengan kelereng di atasnya, memasukkan jarum, memasukkan paku ke dalam botol, tarik tambang, juga ada panjat pinang.
Saat ini banyak juga lomba yang kekinian mengikuti perkembangan jaman, atau karena para panitianya adalah gen Z semua yang daya imajinasi dan kreatifnya tanpa batas. Ada saja idenya buat bikin lomba seru.
Sebelumnya dicatat dahulu siapa saja yang mau mengikuti lomba tersebut. Pastinya, tanggal 17 Agustus jadi momen spesial yang selalu ditunggu-tunggu banyak orang.
Kemerdekaan yang dirayakan setiap tahun itu mengingatkan kita akan perjuangan para pendahulu untuk mendapatkan kemerdekaan dari masa penjajahan Belanda dulu.
Tapi, tahu nggak, Bun, makna kemerdekaan itu bisa beda-beda loh, bagi setiap orang, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Pernahkah Bunda merenung, “Apa sih arti merdeka itu?” khususnya buat kita para Ibu.
Arti Merdeka Bagi Para Ibu
Seperti yang kita tahu 17 Agustus adalah hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Tapi, pernahkah Bunda berpikir apa arti Merdeka buat kita para Ibu?
Tentunya untuk para Ibu, arti Merdeka sangatlah spesial. Saking spesialnya, merdeka ini memiliki banyak arti untuk setiap Ibu.
Lalu, apa sih, sebenarnya arti merdeka bagi para Ibu rumah tangga? Yuk, kita berbagi.
Sebagai seorang Ibu, para Bunda di sini pasti memiliki momen-momen kecil yang membuat kita benar-benar merasa merdeka. Tidak ada yang mengganggu, ingin rasanya waktu berjalan lambat, menikmati apa yang kita suka untuk waktu yang lama. Tidak ada rengekan si kecil atau bahkan suara Bapak yang meminta bantuan untuk menemukan sesuatu.
Bisa juga momen saat Bunda merasa berhasil melakukan sesuatu yang rasanya hampir tidak mungkin. Tapi akhirnya tercapai, dan itu membuat kita merasa merdeka banget. Pernah begitu juga kan, Bun?
Pokoknya di momen itu Bunda merasa sangat bahagia, merdeka.
Merdeka! Akhirnya Si Kecil Tidak GTM Lagi
Si kecil yang awalnya susah sekali membuka mulut untuk makan, tiba-tiba saja makan dengan lahap. Untuk sepersekian detik pasti Bunda speschless.
Apa yang terjadi? Kok jadi habis makannya?
Bunda bingung, tidak percaya si kecil menghabiskan sarapannya. Apalagi begitu si kecil menyodorkan piring kosongnya dan berkata, "mau lagi?" Bunda pun bengong dan mendadak amnesia, tadi lauknya apa ya, kok anakku jadi doyan?
Haha, ini momen istimewa yang sangat ditunggu, saking istimewanya sampai Bunda yang menunggu pun jadi terbiasa menunggu. Karena merasa, ah ga berhasil ini sih dalam waktu dekat. Kayaknya lama ini fase GTM-nya. Anak temanku juga lama, jadi gapapa si adek GTM juga.
Bunda sudah di fase mengikhlaskan dan siap menjalani hingga waktu tak hingga, wkekekkk.
Dan ternyata fase itu berakhir dan berganti ke fase si kecil yang akhirnya berani mengeksplorasi aneka rasa makanan. Dan si kecil menerima makanan itu dengan suka cita. Mereka sampai di fase menyukai semua makanan. MasyaAllah.
Tiba-tiba ... voila! Momen kecil yang paling membahagiakan itu pun datang tanpa pemberitahuan dan tak ada persiapan apa pun. Apa yang Bunda rasakan?
Meloncat kegirangan, mencium si kecil berkali-kali. Menyambut piring kosongnya dan segera mengisinya kembali agar momen antusias makannya tidak dilupakan si kecil lagi.
Hihihi... iya Bun, aku juga pernah seperti itu. Tidak apa-apa, sangat wajar, kok.
Momen ini harus dirayakan dengan suka cita. Karena Bunda akan merdeka dari rasa kesal tiap kali menyuapi si kecil yang selalu GTM. Bunda merdeka dari pikiran 'harus menyiapkan sarapan apa lagi, makan siang dengan apa, cemilan model gimana lagi supaya si kecil mau makan dengan lahap.
Dan Bunda merdeka dari rasa bingung harus menjawab apa atas pertanyaan si Ayah, 'gimana Bun, adek mau makan hari ini?' Sebelum dijawab Bunda sudah frustrasi duluan.
Horeeee alhamdulillah, terimakasih adek karena sudah ga GTM lagi. Bunda jadi merdeka. Merdeka!!
Baca juga : Pastikan 5 Hal Ini Diberikan Kepada Anak Kita
Me Time Lebih Lama, Merdeka!
Bunda sebenarnya tidak mengharapkan bisa me time yang aneh-aneh. Tidak, Bunda tidak ingin pergi hang out ke Jepang. Bukan, Bunda juga ga kepengin tamasya ke Disneyland. Ke pantai Ancol aja kayaknya dah alhamdulillah. Tapi sekali lagi, itu cuma khayalan, cuma wacana, cuma ada dalam mimpi Bunda.
Dulu rasanya mau baca buku kesukaan saja, saya tidak ada waktunya. Waktu yang ada terkuras habis untuk twin yang super aktif, bahkan gaduh berdua. Mau mandi agak lama di kamar mandi pun jauh panggang dari api. Badan kena air saja itu udah alhamdulillah. Nggak sempat luluran karena twin sudah menunggu sambil gedor-gedor kamar mandi.
Makan mie instan hangat dengan telur setengah matang dan cabai rawit yang banyak adalah wishlist istimewa, entah kapan itu tercapai. Karena begitu mie instan matang, banyak sekali gangguannya. Dari si Sulung yang curhat butuh burn out dari skripsi yang ga selesai-selesai. Si Bapak yang tiba-tiba minta kopi. Dan twin yang ga kenal waktu minta dibacakan buku cerita.
Alhasil, mie instan terlupakan dan statusnya berubah jadi reguler bukan lagi instan. Hiksss.
Tapi ...
Satu momen menjadi pembalik keadaan. Hari itu terdengar suara twin asik lomba nyanyi, mereka sahut-sahutan bersenandung, entah lagu apa. Si Bapak mendadak membawakan kopi susu, Si sulung membuatkan mie instan lengkap dengan condiment-nya. Telur setengah matang dan lima cabe rawit utuh.
Momen nge-freeze sesaat itu datang lagi setelah sekian lama. Alhamdulillah, ucap syukur dahulu dan jangan tanya kenapa mereka begitu. Takutnya mereka kembali ke setelan awal, kan, gawat. Apalagi jika ternyata itu semua cuma mimpi.
Alhamdulillah lagi, momen itu berlanjut. Aku bisa mandi agak lama. Karena nggak ada yang teriak dari luar, jadi sempat luluran juga. Aku bisa menuntaskan buku bacaan hingga bab terakhir. Bahkan aku bisa bercocok tanam lagi setelah sekian lama di lahan belakang rumah yang terlupakan. Mau dijual ga laku-laku.
Bisa me time sesuai yang kita mau itu adalah merdeka ibu yang sesungguhnya.
Baca juga : Memaknai Hidup Dan Ujiannya
Memiliki Waktu Merdeka Untuk Istirahat Yang Cukup
Istirahat cukup adalah momen langka bagi seorang Ibu. Alih-alih beristirahat yang cukup, waktu seorang Ibu akan lebih banyak tercurah untuk anak-anaknya. Selalu mengawasi anak bermain, menyiapkan makanannya, melayani mereka, menjaga kebersihan dan kesehatannya. Dan banyak lagi tanggung jawab ibu yang mengesampingkan istirahat. Bahkan harus diakui, seorang Ibu mungkin lupa kapan terakhir istirahat yang nikmat yang pernah mereka rasakan.
Bisa beristirahat yang cukup adalah kemerdekaan terbesar bagi seorang ibu. Ya, kan, Bunda? Setelah lelah membereskan rumah, wara wiri antar jemput anak, berkutat menghabiskan sore di dapur, malam hari masih menemani anak mengerjakan PR. Rasanya seluruh tenaga terkuras habis. Sebenarnya sudah sangat lelah dan mengantuk, Bunda ingin segera istirahat, tapi ... si kecil masih aktif, baterainya masih full, belum ada tanda-tanda mengantuk apalagi ingin tidur di kamar. Bunda meladeninya sambil terkantuk, mata sudah lima watt, menjawab seadanya diselipkan dengan menguap lebar.
Hari itu, sesaat Bunda heran, kok sepi? Tak ada lagi suara si kecil, tidak ada rengekan minta dibuatkan susu sebelum tidur. Susu habis tapi tidak jadi tidur itu sudah biasa. Tapi kali ini berbeda. Si kecil belum minta susu, suara rengekan pun tidak terdengar. Bunda melek sempurna, tidak didapati si kecil di dekatnya. Bunda mencari ke ruang tamu, tidak ada. Ruangan lengang, hanya ada beberapa mainan yang berserakan. Bunda berlari ke dapur, tidak ada juga.
Bunda membuka pintu kamar dan mendapati si kecil tertidur pulas sambil memeluk boneka kesayangannya. Tanpa drama, tanpa susu, tanpa tangisan, tanpa menagih dongeng.
Bunda menghela napas panjang. Alhamdulillah. Lirih Bunda mengucap syukur itu. Membelai lembut rambut si kecil, Bunda membisikkan 'Terima kasih adek sudah menjadi anak baik," air mata menetes, bulir bahagia itu mengalir deras.
Bunda merasa merdeka untuk kali pertama setelah sekian lama. Merdeka untuk bisa tidur siang dan istirahat yang cukup di malam hari.
Baca juga : Ubah Mindset Berdoa
Merdeka Dalam Berkarya
Siapa bilang seorang ibu tidak berhak menyalurkan hobinya? Hanya karena ibu harus mengurus rumah tangga dan anak-anaknya, lantas kami tidak boleh melakukan hal lain yang bisa memuaskan hati? Sungguh tega.
Melakukan sesuatu yang bisa membuat hati berbunga-bunga dan tidak sadar telah menghabiskan waktu yang lama untuk aktivitas tersebut, tapi tidak merasa lelah, itu artinya kamu sudah menemukan hobimu.
Melakukan hobi membuat bahagia, membuat suasana hati cerah. Apakah seorang ibu tidak boleh punya hobi. Hobi membaca, berkebun Memasak? Melakukan hobi dengan hati bahagia bisa mengembalikan mood ibu yang sedang jungkir balik. Saat ibu lelah dengan semua rutinitas. Ajaklah ibu sejenak ke toko buku, ia akan sangat senang menjelajah mencari buku favoritnya. Membeli novel karya dari penulis kesayangannya yang sudah lama ia masukkan dalam keranjang oren.
Jangan khawatir, ibu tidak meminta untuk dibelikan. Ia akan membayarnya sendiri. Bahkan untuk tiga buku sekaligus. Asal ... ia bisa menuntaskan bacaannya nanti di rumah tanpa diganggu.
Jika ibu sudah lama berjongkok di kebun belakang rumah, biarkan saja. Beri ibu waktu sebentar dengan dunianya. Ibu sedang menanam aneka sayuran dan bumbu dapur. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk dirinya sendiri. Untuk memaksimalkan pekerjaan dapurnya. Bukankah yang senang kita semua jika ibu dapat memasak aneka sayuran segar dari kebun sendiri?
Coba tengok Bunda punya hobi apa? Apa yang membuat Bunda berbinar mengerjakannya dan larut di dalamnya? Bahkan jika Bunda bisa 'menghasilkan' dari hobi itu. Lanjutkan!.
Si kecil tidak rewel lagi, si kakak aman dengan tugas sekolahnya, ayah juga tidak lagi meminta bantuan akan sesuatu. Bunda tenang dengan hobi baru. Menulis cerita, bercocok tanam atau membuat aneka kue. Merdeka seperti ini yang Bunda rasakan. Semua berada di rel yang tepat. Alhamdulillah.
Baca juga : Seperti Apa Peranmu Sebagai Ibu
Merdeka Secara Finansial
Saat Bunda menginginkan sesuatu tapi tak kuasa untuk mengajukan pada Paksu karena sedang banyak kebutuhan. Bunda pun mengurungkan niat itu. Mengubur dalam-dalam keinginan Bunda.
Ingin membeli sendiri tapi tidak ada dana lebih. Jika pun ada, Bunda telah menyisihkannya dengan waktu yang cukup lama. Tidak mengapa, Bunda sudah senang memiliki barang dambaan meski terlambat.
Tapi akan sangat lebih baik dan bahagia jika kita bisa membeli sesuatu dari uang kita sendiri bukan?
Bagi seorang Ibu, kemerdekaan finansial memiliki makna yang lebih dalam. Ini bukan hanya tentang memiliki banyak uang, tetapi juga tentang memiliki kendali atas kehidupan finansial diri sendiri dan keluarga, memberikan rasa aman, dan membuka peluang untuk mewujudkan impian pribadi.
Saat Bunda punya penghasilan sendiri, tidak perlu menunggu diberi jika ingin membeli sesuatu. Tapi tidak juga lantas menjadi apriori dan tidak mau bergantung pada pasangan. Pendapat pasangan juga diperlukan untuk memutuskan hal yang berkaitan dengan keuangan keluarga.
Kemerdekaan finansial tidak hanya memberikan manfaat bagi ibu, tetapi juga bagi seluruh anggota keluarga. Dengan kondisi finansial yang stabil, ibu bisa lebih fokus pada keluarga dan memberikan kasih sayang yang terbaik. Ayah dan Bunda bisa saling bahu membahu menopang ekonomi keluarga. Tidak ada yang boleh dominan di sini. Ayah tetap kepala keluarga dan ibu sebagai manajernya. Hanya saja kini ibu lebih merdeka mengelola keuangan sendiri. Boleh menjadi second income keluarga tapi bukan kewajiban.
Baca juga : Refleksi 24 Tahun Pernikahan
Merdeka dalam hal apa lagi yang Bunda butuhkan? Semua bisa didiskusikan bersama anggota keluarga lainnya.
Yang terpenting adalah kita terus berusaha untuk mencapai kemerdekaan yang kita inginkan. Merdeka itu bukan hanya tentang kebebasan fisik, tetapi juga kebebasan pikiran dan jiwa. Merdeka berarti berani menjadi diri sendiri, mengejar mimpi, dan menikmati setiap momen dalam hidup Bunda.
Terkadang merdeka itu sederhana, Bunda. Bisa menikmati secangkir kopi tanpa terburu-buru, bisa membaca buku favorit tanpa gangguan, atau bisa sekadar berjalan-jalan di taman bersama anak. Merdeka juga berarti berani mengatakan tidak, berani mengejar mimpi, dan berani menjadi diri sendiri.
Selamat berproses menjadi pribadi yang Merdeka ya Bun. Semangaaat. Merdekaaa!

Komentar
Posting Komentar